Mahasiswa IPAI UPI Terlibat dalam ISCE 2025, Dorong Edukasi Keuangan dan Inovasi Desa Berbasis Syariah

Bandung

— Mahasiswa Program Studi Ilmu Pendidikan Agama Islam (IPAI) Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (FPIPS) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Muhammad Zulfikar, menjadi salah satu peserta aktif dalam program International Students Community Engagement (ISCE) 2025. Kegiatan ini berlangsung selama satu bulan, dari 21 Juli hingga 21 Agustus 2025, di Desa Sidorejo, Kecamatan Sekampung Udik, Kabupaten Lampung Timur.

ISCE 2025 merupakan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) lintas kampus yang diselenggarakan oleh Institut Teknologi Sumatera (ITERA) dan Badan Kerja Sama Perguruan Tinggi Negeri (BKS-PTN) Wilayah Barat. Program ini melibatkan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia serta mahasiswa internasional, dengan fokus pada pengembangan potensi desa melalui pendekatan edukatif dan pariwisata berkelanjutan (EducoTourism).

Dalam kegiatan tersebut, Zulfikar berperan sebagai Koordinator Humas, pemateri dalam sosialisasi etika keuangan (financial ethics), pengajar di Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ), serta moderator dalam pelatihan pembuatan tepung mocaf dan pakan ternak berbasis limbah pertanian. Ia juga terlibat dalam penyusunan booklet wisata desa berbahasa bilingual sebagai luaran program.

“Program ISCE ini merupakan anugerah dari Allah SWT. Kami belajar langsung dari masyarakat, berinovasi dari potensi desa, dan membangun jejaring lintas budaya bersama mahasiswa internasional,” ujar Zulfikar.

Kegiatan ini turut dihadiri oleh sejumlah tokoh daerah dan nasional, di antaranya Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djasual, Bupati Lampung Timur Hj. Ela Siti Nuryamah, Bupati Pesawaran Dendi Ramadhona, serta Rektor ITERA dan Rektor Universitas Lampung.

Program ISCE 2025 dinilai relevan dengan penguatan kompetensi akademik dan spiritual mahasiswa. Dalam aspek akademik, kegiatan ini menjadi implementasi langsung dari mata kuliah Fiqih Muamalah dan Fiqih Sosial, khususnya dalam konteks perdagangan syariah dan pengembangan makanan halalan thayyiban. Dalam aspek spiritual, mahasiswa diajak memahami nilai-nilai keberagaman melalui dialog lintas agama yang berlangsung dalam sesi Ruang Sintesa.

Zulfikar mencatat bahwa nilai kemanusiaan dan penjagaan alam menjadi titik temu antara ajaran Islam, Hindu, dan Kristen Protestan yang ia temui selama kegiatan. “Makna toleransi bukan sekadar menghargai, tetapi bersinergi dalam gotong royong dan mengaplikasikan nilai-nilai agama dalam kehidupan masyarakat,” tuturnya.

Program ini juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya:

  • SDG 4 – Pendidikan Berkualitas
  • SDG 8 – Pertumbuhan Ekonomi
  • SDG 13 – Aksi Iklim
  • SDG 17 – Kemitraan untuk Tujuan

Dosen pembimbing, Abdul Azis, S.Pd., M.Pd., menyampaikan bahwa mahasiswa harus hadir di tengah masyarakat dengan etika, kesiapan, dan semangat untuk mengangkat nama baik institusi. “Berbaurlah dengan etika yang baik, jadilah pribadi yang menyinari kegiatan ini dengan jiwa pemenang,” ujarnya.

Melalui ISCE 2025, mahasiswa IPAI FPIPS UPI menunjukkan bahwa pendidikan agama Islam dapat berkontribusi nyata dalam pembangunan masyarakat, baik secara lokal maupun global.