Implementasi Asesmen Afektif dalam Pembelajaran PAI: Analisis Praktik dan Tantangan di Sekolah Dasar

Program Studi Ilmu Pendidikan Agama Islam (IPAI) Universitas Pendidikan Indonesia terus menunjukkan komitmennya dalam pengembangan kualitas pendidikan melalui riset mendalam. Tim peneliti yang terdiri dari Ananda Indriani, Saepul Anwar, dan Nurti Budiyanti melaksanakan studi kasus di salah satu SDN di Kota Bandung pada periode Juni 2025 untuk mengeksplorasi implementasi asesmen afektif dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI). Penelitian ini berangkat dari urgensi pembentukan karakter siswa sekolah dasar yang tidak hanya bertumpu pada kompetensi kognitif, tetapi juga pada internalisasi nilai moral dan spiritual yang terukur secara sistematis.

Membedah Konsep dan Pemahaman Guru

Temuan penelitian menunjukkan bahwa guru PAI telah memiliki pemahaman konseptual yang baik mengenai asesmen afektif sebagai evaluasi terhadap sikap, keterlibatan, dan perilaku siswa. Guru menyadari bahwa pengetahuan agama tidak secara otomatis bertransformasi menjadi perilaku nyata; sebagai contoh, siswa mungkin mengetahui teori kejujuran namun belum tentu mempraktikkannya dalam keseharian. Secara teoretis, hal ini sejalan dengan prinsip bahwa pengembangan moral memerlukan habituasi dan keteladanan (modeling) yang konsisten. Perspektif ini mempertegas bahwa asesmen afektif bukan sekadar pelengkap, melainkan instrumen vital untuk memantau perubahan sikap siswa secara longitudinal.

Tantangan Dokumentasi dan Praktik di Lapangan

Meskipun pemahaman guru sudah mendalam, penelitian ini mengungkap adanya celah (gap) antara perencanaan formal dan praktik di kelas. Dokumentasi penilaian sebagian besar masih dilakukan secara lisan dan situasional, tanpa penggunaan instrumen formal seperti rubrik atau lembar observasi secara konsisten. Faktor-faktor seperti rasio guru-siswa yang tinggi, beban kerja, serta keterbatasan fasilitas menjadi kendala dalam menjalankan asesmen yang terukur. Fenomena ini selaras dengan temuan internasional yang menyatakan bahwa asesmen afektif seringkali kuat secara konseptual namun lemah dalam pencatatan data yang tertelusur (record-keeping).

Inovasi Instrumen Adaptif bagi Sekolah Dasar

Sebagai solusi atas kendala tersebut, tim peneliti IPAI UPI menawarkan rancangan instrumen asesmen afektif yang sederhana dan adaptif. Instrumen ini membagi penilaian ke dalam dua domain utama: Sikap Spiritual (seperti kebiasaan ibadah, tadarus, dan zikir) serta Sikap Sosial (kejujuran, disiplin, dan tanggung jawab). Penggunaan teknologi seperti video dan perangkat seluler juga diidentifikasi mampu meningkatkan antusiasme siswa, meskipun memerlukan pengelolaan yang tepat agar tidak menjadi distraksi dalam proses pembelajaran.

Koneksi dengan SDGs dan Standar Global

Riset ini merupakan langkah nyata Prodi IPAI UPI dalam mendukung SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), khususnya dalam memastikan semua peserta didik memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan untuk mendukung pembangunan berkelanjutan melalui pendidikan karakter. Dengan mengintegrasikan nilai-nilai akhlakul karimah ke dalam indikator perilaku yang terukur, pendidikan agama Islam di sekolah dasar berperan sebagai fondasi bagi terciptanya masyarakat yang damai dan inklusif.

Keberhasilan pendidikan agama tidak hanya diukur dari sejauh mana siswa mampu menghafal dalil, namun dari seberapa dalam nilai-nilai tersebut membekas dalam perilaku mereka. Penguatan kapasitas guru dalam melakukan asesmen afektif secara sistematis adalah investasi jangka panjang untuk melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga agung dalam karakter dan teguh dalam iman.